seorang manusia biasa,,, TIDAK LEBIH!!!!

seorang manusia biasa,,, TIDAK LEBIH!!!!
mereka yg memiliki nama EMAS di panggung DUNIA adalah mereka yg selalu mengutamakan kebenaran dan rasa kemanusiaan demi kepentingan orang banyak tanpa pernah memikirkan "BAGAIMANA KEHIDUPAN SAYA SENDIRI!!!!???" namun lebih kepada memikirkan "BAGAIMANA KEHIDUPAN MEREKA NANTINYA???!!!!"

Senin, 23 Januari 2012

INIKAH?!


Bimbang!
Mengapa aku tak bisa seperti yang lain?!
Yang mampu mengontrol keadaan mereka!?
Apakah karna aku terlalu takut untuk menatap hari esok?!

Bimbang!
Satu persatu kesalahan mulai dilakukan,
Dengan segala alasan dan pengharapan,
Tak heran bila ternyata kini semua orang mengalami kondisi DILEMATIS!

Bimbang!
Bukanlah sebuah makna sebenarnya,
Karna ia hanya sebuah ungkapan,
Lantaran kita yang kian hari selalu merasa bahwa kita tertindas,

Bimbang!
Tidak tahu mana yang seharusnya kita pilih,
Tidak tahu kemana arah tujuan kita kelak,
Tidak tahu apa yang semestinya kita perbuat,

Bimbang!
Barangkali memang kita yang sudah tak bisa lagi berpikir jernih,
Mungkin penyebabnya ada dalam diri kita sendiri,
Bisa jadi kitalah yang membuat keadaan menjadi tak pasti,

Bimbang!
Dimana kan kita rajut kembali semua perjuangan kita,
Dimana kan kita mengulang setiap langkah kita,
Nyatanya kita sudah maju namun kita harus kembali mundur,

Bimbang!
Kenyataan berkata bila kita adalah seorang pecundang,
Kenyataan berkata jika kita merupakan orang yang kalah,
Kenyataan berkata bahwa kita ialah manusia bodoh,

Apakah semua yang terjadi karna keadaan yang kian memburuk?
Adakah obat dari kondisi kita yang diambang kebingungan ini?
Disinikah akhir dari cerita kita? Berada didua persimpangan jalan yang kita pun tak tahu mana yang benar!
Sungguh ingin sekali rasanya aku memetik mentari agar bisa ku lihat jalan didepanku!

Bimbang, Dilema, Galau, Bingung!
Antara kanan atau kiri?!
Antara iya atau tidak?!
Antara maju atau mundur?!
Antara pemenang atau pecundang?!
Semua ada ditangan kita masing-masing!!




Jakarta, 24 Januari 2012
Pukul : 01:53 PM
Karya : Muhamad Reza Aqbar Perdawa

BEGITU


BEGITU

Secepat angin engkau berlalu,
Menanggalkan semua yang pernah kita lewati,
Engkau begitu indah kala itu,
Hingga aku pun tak sadar bahwa ternyata kau sudah tak disampingku,

Secepat angin engkau sirna,
Melupakan semua cerita,
Tak bisa aku lupa bagaimana rasanya,
Saat kau tiada,

Secepat angin engkau hilang,
Seperti awal kisah yang terukir,
Dimana semua dimulai disini, ditempat ini,
Ku ingat kembali dan kurasakan aura itu,

Aku tatap jajaran rak-rak buku,
Menerawang jauh ke alam bawah sadarku,
Mencoba mencari sisa-sisa kenangan saat masih bersamamu,
Aku hanyut dalam keadaan yang melankolis,

Sampai aku tersadar bila aku hanya berkhayal,
Sesaat sebelumnya aku merasakan dirimu disini!
Ya! disini! Disampingku! Membisikan kata “I LOVE YOU!”
Namun belum sempat aku membalasnya, lamunanku usai,

Secepat angin engkau mengakhiri,
Seolah aku hanyalah hiasan dan kiasan bagimu,
Walau rona-rona duniamu masihku ingat,
Akan tetapi itu dimasa silam!

Kasih… andai kau bisa mendengarkan keluhku,
Aku hanya berharap kau tak lagi bersedih,
Aku hanya berharap kau tak lagi mengusap pipiku yang basah,
Ohh… kasih… liontin yang kau berikan masih ku simpan,

Sebagai pengganti dirimu yang telah disana,
Maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu!
Maafkan aku yang selalu membuatmu cemburu!
Aku hanya berusaha melakukan sesuatu untuk membuatmu senang dan selalu tersenyum,

Tapi dimalam itu,
Aku tak juga mampu membuatmu ceria!
Maafkan aku sayang! Maafkan aku kasih!
Semoga selembar do’a-ku mampu membuatmu bahagia disana,
Salam rindu dan cinta dari kekasihmu.


Jakarta, 24 Januari 2012
Pukul : 04:54 AM
Karya : Muhamad Reza Aqbar Perdawa


Link for download this poetry....

http://www.mediafire.com/?75bu3pbnbh17mx3

Rabu, 04 Januari 2012

DUDUK MANIS

                                                     

ruang dan jiwa kerap berbelot,
menampar keras dalam relung hati,

kesukaran hanya sajian kemalasan,
hingga kita diperbudak oleh kemalasan,

aku heran kenapa tak ada jua satupun yang perduli,
aku bingung mengapa semua hanya duduk diam manis dengan tangan terlipat,

apakah semua hati nurani sudah MATI!!?
apakah semua rasa itu sudah PUPUS!!?

lalu bagaimana dengan bibit-bibit penerus?
lantas serupakah mereka dengan kita-kita yang sudah jalan dimasa lalu?

haruskan semua terus tersusun bagai PUZZLE kehidupan?
atau memang kita yang enggan mengutak-ngatik PUZZLE tersebut?

oleh karena kita MALAS?
oleh karena JIWA DAN RUANG yang berbelot?
inikah HATI NURANI itu?
inikah RASA tersebut?

aku hanya sanggup memutar kembali kenangan manis dimasa kecil,
berharap apa yang aku rasakan dan aku nikmati dimasa lampau dapat dikecap oleh bibit sekarang!
namun semua hanyalah kesia-siaan dan FANTAMORGANA belaka!
semua hanya berkerut dahi dan bertekuk wajah!

tinggal aku sendiri yang memandang parau luka dikenyataan!
tinggal aku seorang yang lesu membicarakan goresan dikehidupan!

akulah manusia terbodoh yang sekiranya masih memiliki HATI NURANI!
akulah manusia terbodoh yang setidaknya masih memiliki RASA PEDULI!
akulah manusia terbodoh yang sekiranya masih memandang RUANG DAN JIWA yang berbelot!
semua takkan sanggup ku kerjakan sendiri tanpa kehadiran seorang kawan sejati yang kini mulai merongrong bagai SRIGALA MALAM!

aaaarrrrrgggghhhhh...........!!!!

hanya kata itu yang sanggup keluar dengan kelu dikeheningan pada tiap malam.

Selasa, 03 Januari 2012


Teka-teki persoalan

ada rasa syukur yang bergemuruh,
terasa begitu indah,
bagai alunan irama,
dan nyanyian syurga,

membawa ragaku kedalam Taman Eden,
meski demikian ada rasa tak kuasa,
menahan pilu dan kelunya hati,
menggerai lunak nan keras,

Sobat! Kau tahu?
Teman! Kau mengerti?
Kawan! Kau paham?

Ich bin wirklich Wimmern Steuermann
entah akan sampai kapan!

dimana perasaan ini sungguh ingin,
menampar dan menampar jiwaku yang lemah!
kala terdiam dan membisu,
kau tahu seberapa penyesalan itu?

wenn ich nicht etwas dagegen tun?
ha!?
SORE!!
BUDDY WUND!!!
SEHR SCHMERZHAFT!!!

itulah yang aku rasakan!!
MENGAPA TAK JUA KAU PAHAM!!
Ich kann nicht für sich selbst streben!
butuh waktu untuk itu!!

Sabtu, 08 Oktober 2011

ROBOHNYA SURAU KAMI

Karya : A. A. NAVIS




Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan
akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan
kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu.
Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang
airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana
dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai
garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya
sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari
kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin
ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan
pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan
apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting,
memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan
rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasihdan
sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa
penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala
apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan
dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian
yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak
berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat
masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal
kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku
suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan
lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah
ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa,
sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek.
Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti
 saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,
"Pisau siapa, Kek?"

"Ajo Sidi."

"Ajo Sidi?"

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan
aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang
dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk
dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-
pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo
akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-
pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada
pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk
selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah
membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu.
Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"

"Siapa?"

"Ajo Sidi."

"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.

"Kenapa?"

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

"Kakek marah?"

"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama
aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya.
Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku
menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi
Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang
bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah
disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah
perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia
takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti
orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala
kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku
menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan
manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan
dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku,
karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku
bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya
 bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya.
Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.
Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan
manusia terkutuk."

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"

"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati
Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan
akhirnya Kakek bercerita lagi.

"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang
sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar
dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada
perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji
Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke
dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan
menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya
menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia
melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-
habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan
Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu
Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut
nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku
selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

 Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf,
pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi
menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus
dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan
kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap
kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang,
Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji
Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah
tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun
bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa
ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya
Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia
terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya,
karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan
ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu
Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi
sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat,
teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-
Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang
ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam
kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin
gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita
berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara
menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang
menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami
yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat
menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-
Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami.
Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami
Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang
tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar
hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam
Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya,
bukan?’

Episode 1

Robohnya Surau Kami

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena
fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa
Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil
tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami
ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka
hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang
harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih
suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya
raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh,
tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin.
Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka.
hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan
yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya
di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada
malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk
neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri,
melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah
kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara
semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

"Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.

"Kakek."

"Kakek?"

"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia
menggoroh lehernya dengan pisau cukur."

"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang
tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"

"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."

"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo
Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"

"Kerja."

"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

"Ya, dia pergi kerja."

---the end---

Minggu, 02 Oktober 2011

KAPAN?

kapan?
kapankah datangnya hari itu?
dimana suasana menjadi tenang dan damai,
tidak ada lagi kesakitan dan kejahatan,

kapan?
kapankah waktunya tiba?
saat hujatan dan gunjingan tak lagi diperdebatkan,
dimana semua sesuatu sudah merasa bahagia,

perdamaian yang dinanti,
persahabatan yang ditunggu,
tapi semua serasa sekumpulan organ dalam tubuh,
ia ada, ia terasa, ia bermanfaat,

hari dimana maut disembelih,
hitam dan putih pun disembelih,

Jumat, 09 September 2011


KECERIAAN

Cahaya itu kembali berbinar,
Menyinari bilik-bilik yang gemerlap,
Silau tak terkira,
Menyelinap hingga ke ujung,

Bagai fantamorgana,
Ia berusaha membagi dua dunia,
Memilah mana yang baik dan benar,
Menunjuk satu yang pasti,

Ia berkata,
Ia berucap,
Ia berseru,
Ia bersahutan,

Sinar itu datang berkelip,
Bukan imajinasi,
Bukan khayalan,
Dan bukan pula angan,

Begitu erat hangatnya menggigit,
Menancap kuat,
Terpatri ke dalam,
Sungguh bukan lagi yang tersilaukan,

Namun kesenangan ini akankah berakhir?
Apakah kebahagiaan ini begitu cepat berlalu?
Hanya waktu yang mampu memberikan jawabnya,
Dan ia hanya suatu hal yang bisu tapi tak menipu.

Rabu, 07 September 2011

SOMEONE

Untuk pertama kalinya,
Aku merasakan perasaan cinta yang tak tahu mengapa aku mencintainya,
Perasaan itu ada sewaktu impian dan keadaan menjadi seperti ini,
Ia tak pernah lekang dari perhatian,

Ia selalu ada,
Ia selalu memberikan support,
Ia selalu menjadi pacuanku,
Bahkan dia jugalah yang menggiringku kembali ke tempat persinggahan yang semestinya aku berada,

Kabar terakhir yang aku dapatkan mengenai dirinya yakni setahun dua tahun yang lalu,
Saat aku hilang dari tahtaku,
Ketika aku sirna dari jangakauan,
Sewaktu mereka tak mengetahui keberadaanku,

Yang ternyata semua itu membuatnya pergi bagai tertelan oleh bumi,
Tiada yang mampu membuatku bertekuk lutut,
Tiada yang memberikan aku imajinasi mengenai dunia,
Ia bercerita tentangku kepada jawaranya,

Hari ini aku sangat rindu akan sosoknya,
Sekarang ini aku begitu menginginkan sosoknya yang dewasa,
Saling memberikan masukan,
Saling bertukar pikiran,

Ah… mengapa aku menjadi berandai-andai,
Mungkin kini ia sudah tenang dengan kegiatannya seperti dahulu,
Sesaat sebelum aku ada,
Aku sadari memang aku tak pantas dan layak untuknya,

Kedewasaanmu membuatku merindu,
Kedewasaanmu membuatku kangen,
Kedewasaanmu menghantarkanku pada kenangan saat engkau ada,
Kedewasaanmu itulah yang aku nantikan kini.
KESALAHAN

Berjalan melangkah melewati aral,
Menitikkan lara dalam batin,
Berharap semua pilu ini cepat berakhir,
Entah bagaimanapun caranya!

Apakah engkau mengerti?
Aku sadari bila aku rindu kepadamu!
Apakah engkau paham?
Aku sadari aku mencintaimu!

Aku sesali karna semua yang ada dalam diriku,
Karna aku tak seperti apa yang engkau inginkan,
Aku tahu bahwa aku hanya manusia tak sempurna,
Tetapi mengapa kala itu engkau membiarkan aku mencintai yang nyata engkau tak mencintaiku!?

Pupuslah keindahan yang aku impikan,
Kini aku takkan pernah mencoba untuk hadir dalam hidupmu,
Lantaran perasaan ini telah kandas oleh keputusan yang kau ambil,
Semoga ini bukanlah kekeliruan yang pada ujung cerita penyesalan datang,

Sebab memang bukan diriku yang engkau harapkan!
Karna memang bukan aku yang engkau inginkan!

Namun, semua telah terjadi dan takkan bisa terulang,
Biarkan semua menjadi kisah dalam perjalanan kehidupanku,
Yang terpuruk,
Ingin ku tangisi semua cerita ini tapi aku bukanlah orang yang demikian,

Kau kan tahu siapa yang mencintaimu dan siapa yang terobsesi kepadamu.
DILEMA


Lelah,
Aku sangat lelah memikirkan persoalan tentang cinta,
Aku begitu lelah bila berurusan dengan cinta,
Cinta yang seharusnya suci itu kini mesti terluka oleh peradaban,

Lelah,
Aku sungguh lelah jika harus membicarakan masalah cinta,
Cinta yang saban hari kian ngelantur entah kemana jalannya,
Dua insan muda-mudi bergelora menggemborkan cinta,

Heran,
Bingung rasanya hati ini mesti diapakan,
Apa karna telah banyak luka yang terpatri dalam dada,
Atau memang sudah menjadi suratan takdir,

Heran,
Kehampaan ini menjadi begitu menjadi-jadi,
Saat cinta ini harus terkuak ke permukaan,
Entahlah akankah aku sanggup untuk membendungnya,

Lemah,
Memang kenyataan ini harus aku terima,
Sebab tubuh ini menjadi lemah tak kuat menahan segalanya,
Menahan hal-hal yang abstrak!

Lemah,
Takkan pernah rasanya hati ini menjadi plong,
Tiap waktu, tiap saat, hati ini kian melemah,
Bersama perjalanan waktu,

Haruskah aku berdiam menikmati keanehan ini?
Adakah yang mampu membatuku untuk menopangku?
Sampai kapan keadaan ini akan begini?
Aku tahu ini hanya urusan waktu saja.

Selasa, 06 September 2011

TIDAK ADA JUDUL


Sekian lama menanti tak kunjung ada,
Keberadaanya kian memudar selepas kejadian itu,
Sampai kini memadat dan membeku,
Desirannya menghalangi langkah yang ingin dilalui,

Terhempas dari badai kini masuk ke dalam malapetaka,
Menunggu matahari yang ia rindukan,
Matahari yang memberikannya semangat hidup,
Matahari yang membuatnya sadar bahwa kehidupan haruslah terus berjalan,

Namun kini matahari itu enggan menghadap,
Dirinya selalu berandai-andai jika ia dapat melihat matahari lagi,
Sungguh betapa rindunya ia pada matahari,
Matahari yang menjadikannya seseorang yang mengerti,

Sekarang ia hanya termangu dalam kebisingan hari yang tak menentu,
Menjalani seribu malam bersama desahan resah,
Meriuhkan wajahnya seolah ia bahagia walau nyata ia menderita dan merana,
Lantaran sang matahari tak kunjung menyinari dan menghangatkan hari-harinya,

Masihkah ia memperoleh harapannya akan kedatangan sang matahari?
Bolehkah ia bermimpi bilamana sang matahari kembali menyongsong kedalam lubuk hatinya?
Ia begitu merindukannya,
Sangat-sangat merindukannya.

DULU

Dengan kesedihan yang kau tinggalkan aku hanya duduk termangu,
Berteman dengan kenangan dan bayanganmu,
Harapan serta impian untuk bisa bersama dengamu kandas sudah,
Kini kau tak lagi menjadi bagian dari kehidupanku,

Entah apa yang semestinya aku lakukan,
Aku bingung,
Aku dilema,
Aku  galau,

Banyaklah sudah hal yang aku lakukan,
Sekedar menghilangkanmu agar aku bisa kembali beraktifitas kembali,
Tapi semua serasa sia-sia saja!
Wajahmu, senyummu, tawamu, candamu, manjamu, selalu datang menghampiri,

Mengapa dirimu yang tak lagi bisa bersanding denganku tetap ada?
Adakah salahku kepadamu? Atau memang aku yang masih memiliki secerca perasaan untukmu?
Aku tak tahu harus bagaimana!
Duniaku seperti terkekang, aku bagai terpenjara dalam suatu ruangan yang aku sendiri tak tahu apa itu,

Teman-temanku, sahabat-sahabatku, semuanya pun sudah pasrah atas apa yang terjadi padaku,
Inikah yang semestinya terjadi ketika kau tak lagi ada?
Apakah ini yang harus aku jalani saat kau sudah tak sudi berada disampingku?
Entahlah… mungkin memang ini sudah jalan takdirku,

Kebersamaan yang indah saat bersamamu akan menjadi kenang-kenangan dalam hidupku di masa depan,
Menjadikan aku lebih bisa mengerti dan memahami bagaimana seharusnya hidup,
Meski ada sedikit keinginan agar kau kembali tetapi semua sudah usai,
Tawaku, candaku, senyumku, itu terjadi karena terpaksa lantaran di dalam hatiku masih ada perasaan gundah,

Ya! aku mengerti,
Aku harus bisa dan dapat menerima kenyataan ini,
Jika tidak? Maka aku akan kalah oleh keadaan dan kondisi ini,
Terima kasih duhai bekas kekasihku yang aku cinta (dulu).

KELABU


Ada berjuta kebahagiaan yang hinggap,
Tiada pernah kesemuanya bertengkar,
Bermanjanya ia dalam dekapan,
Bernuansa haru biru nan sendu,

Tertancap kokoh,
Tegak berdiri,
Melambungkan insan,
Dinding pelangi terhias,

Walau terpatri tetap beriringan,
Dengan senja dan gerimis,
Lalu mempesonakan langit biru,
Bernyanyi merdu bersuara cakap,

Sang samudera menggepalnya,
Menangkapnya dan menangkarnya,
Memelihara kesahajaan jiwanya,
Menimangnya bersama lukisan Ilah,

Inikah?
Itukah?

Sepadannya senyuman dengan tangis,
Perasaan bersambut duka,
Menghapus kenangan kebersamaan,
Kehebatan tuan Cinta,
RESAH

Malam itu, kau begitu marah terhadapku,
Entah apa penyebabnya,
Tapi kau tampak seperti tak ingin melihatku lagi,
Kau keluarkan semua yang aku tidak ketahui,

Ku tatap matamu kala itu,
Ku lihat wajamu saat itu,

Tak terselip pun suatu hal yang aku pikir kau tengah mengerjaiku,
Aku hanya mampu berkata untuk menenangkanmu,
Kau malah menjadi-jadi,
Lantas aku hanya berdiam menjadi seorang pendengar,

Beberapa saat kemudian kau diam sejenak dan aku pun mengajakmu pulang,
Tatapanmu masih saja sama seperti tadi,
Kau pun tak seperti biasanya,
setibanya di depan rumah orangtuamu,
Dengan wajah kecut aku pamit kepadamu yang tanpa ada balasan darimu,

Esok harinya kau tak mau ku jumpai,
Aku risau, aku resah, aku bertanya kepada diriku “apa salahku kepadamu?”
Senja pun datang dan kabar darimu pun tak ada,
Ada apa gerangan? Mengapa kau tak kunjung memberikan aku kabar?

Hari berikutnya dengan keadaan yang masih sama dan aku sedang dalam rutinitasku,
Ada sepucuk surat yang ditujukan untukku,
Tanpa ada nama pengirim yang ada hanya namaku saja,
Ku baca surat itu,

Betapa terkejutnya aku selesai membaca surat itu,
Serasa tak percaya, maka aku membaca ulang surat tersebut berkali-kali,
Tak terasa air mata pun menitik, wajahku berubah menjadi payau,
Dengan perasaan gelisah aku datang ke rumahmu,

Ternyata memang benar! Aku tak tahu harus berbuat apa! Hanya mampu memandangi batu nisanmu didepan kuburmu!
Mengelus-neglus nisanmu yang aku anggap itu adalah kepalamu dengan rambut indahmu yang tergerai,
Tapi…………. Ternyata, malam itu adalah malam terakhir aku berjumpa denganmu!
Kenapa perpisahan ini membuat sesak di dada? Mengapa tidak sejak dulu kau katakan penyakit yang ada di dalam tubuhmu?

Kini, kau telah tenang bersama para bidadari di Surga,
Dan aku? Berada dalam lubang keterpurukan dengan keikhlasan membiarkanmu damai di sana,
Selamat jalan pelangiku, maafkan aku.
AKHIRNYA

“sayangku, engkaulah makhluk Ilah yang Dia datangkan untukku, sayangku, sungguh betapa bahagianya diriku karna bisa memilikimu, sayangku, tiada seribu kata yang mampu aku lukiskan betapa aku bahagianya saat ini, terima kasih ya Rabb, terima kasih sayang, aku sayang kamu”
 



Sekiranya itulah isi dalam pesan singkat yang aku kirimkan,
Sebelum aku pergi mengemban tugas,
Tiada terkira hati ini sedih,
Meski dalam lubuk hati yang terdalam aku tidak ingin pergi meninggalkanmu lagi,

Masih jelas teringat raut wajahmu yang merasa berat melepasku pergi,
Dengan senyum khasmu,
Dengan manja khasmu,
Aku langkahkan kakiku dari hadapanmu berpamitan untuk bergegas ke Bandara,

Entah apa yang terbesit dalam benakmu kala itu,
Tetapi yang aku tahu,
Aku enggan untuk meninggalkanmu saat itu,
Aku enggan engkau sirna dari pandanganku tanpa sesiapa yang menemanimu,

Hari-hari semenjak aku pergi hati ini merasa begitu sepi,
Hampa! Itulah yang aku rasakan ketika engkau tak ada,
Namun apa yang mampu aku perbuat?
Aku pergi untuk menjalankan tugasku, tugas yang tidak bisa ditunda maupun dibatalkan,

3 bulan telah berlalu,
Saat terakhir engkau membalas kabar kepadaku seminggu yang lalu,
Semestinya hari itu engkau melarangku pergi!
Karena aku tidak kuat menahan rindu berkepanjangan!

Tidak berjumpa denganmu dalam waktu yang cukup lama,
Tetapi rasanya semua akan terbayar kini,
Hari-hari kepulanganku ke tanah air kian dekat dan tugasku pun sudah hampir selesai,
Akhirnya aku akan bertemu dengan pujaan hatiku,



“sayangku, besok aku akan take off dari Bandara, kemungkinan tiga hari dari hari ini aku sudah tiba di Bandara. Oh ya sayang, bagaimana keadaanmu di Tanah Air? Semoga baik-baik saja ya, aku rindu kepadamu sayang. Sudah dulu ya sayang, aku harus kembali menyelesaikan beberapa hal sebelum aku meninggalkan Negara ini. Salam rindu, pujaan hatimu.”


Air mataku bercucuran dalam batin,
Serasa tak percaya saat terbangun aku sudah berada di Tanah Air,
Aku tak mampu membayangkan akan menjadi apa keadaan nanti,
Saat engkau melihatku sudah pulang,

Tangga pesawat aku turuni,
Langkahku mantap meninggalkan Airport Interntional of Soekarno-Hatta,
Bergegas menuju persinggahan,
Tak sabar rasanya aku ingin bertemu denganmu yang sekian waktu telah aku tinggalkan,

Betapa terkejutnya aku sesampainya dirumah kesayangan kita,
Aku melihat begitu banyak orang lalu lalang mengenakan pakaian serba hitam,
Terhias bendera berwarna kuning  berkibar disudut-sudut tiang listrik maupun sudut-sudut bangunan,
Sementara dihalaman rumah banyak karangan bunga yang entah dari siapa,

Aku hanya dapat mengecutkan wajahku,
Karna memang aku tak sanggup berkata-kata,
Yang mampu aku perbuat hanya meneruskan langkahku untuk segera tiba dirumah,
Astagfirullah!!

Aku tak percaya apa yang aku lihat,
Aku tak bisa berucap sepatah katapun!
Aku lemas selemas-lemasnya!
Aku… Aku… aaarrrrgggghhhhhhhhhhhh…….!!

“mengapa semua menjadi seperti ini!?”
Engkau menangis tersedu-sedu diatas sebuah jasad,
Jasad yang tergolek, tidak bergerak maupun bernapas,
Inikah kenyataan yang terjadi?

Kawan-kawan sekantorku pun serasa tak pernah menduga bahwa semua akan begini jadinya,
Mereka tak menyangka bahwa akhirnya aku harus pergi mendahului mereka yang aku sayangi!
Aku merasa kehidupan ini tak adil bagiku!
Aku merasa kenyataan ini tak begitu adil dan adil!

Perlahan aku dekati dirimu yang mengharu biru,
Mencampakkan pandangan dari jasad tersebut,
Hanya kata “maaf” yang sanggup aku keluarkan,
Tiada sepatah kata yang lain aku berikan kepadamu,

“sayang, maafkan aku, aku tak bisa menjagamu. Aku tak dapat melindungimu, merawat anak kita dan mendidiknya hingga ia tamat dan sukses. Sayang, semoga engkau tegar dalam menjalani kehidupan ini. Aku akan setia menunggumu di Alam sana. I LOVE YOU!”

Ucapan terakhir yang tak sempat aku kirimkan dan engkau baca,
Selamat tinggal sayangku, Semoga cinta kita bisa menjadi Syafa’at untuk kita kelak,
Selamat tinggal dunia,
Aku menyayangi kalian semua!

Selasa, 16 Agustus 2011

hmm... ^_^:

Tuhan, Kau titipkan seisi bumi-Mu kepada Khalifah-Khalifah didunia,



Tuhan, Kau sandingkan kami dalam perasaan CINTA KASIH-Mu,



Tuhan, Kau berikan kami semua yang kami butuhkan,



Tuhan, Kau berikan kami ilmu,



Tuhan, Kau berikan kami hati,



Tuhan, betapa banyak hal-hal yang Kau berikan kepada kami Khalifah di Bumi-Mu ini dan betapa banyak hal-hal yang kami selewengkan dari ketetapan yang Kau rencanakan,



Tuhan, sungguh! sangat miris ketika aku melihat kembali VIDEO DUNIA ini!



Tuhan! aku kira aku akan menjauh dari semua itu! aku merasa bahwa aku akan melangkah jauh dari apa yang pikirkan!



TUUHAAAAAAAAANN............!!



oooohhh....... TUUUUHHAAAAAAAAAAAAANN..............!!



aku sangat merasa tak kuasa menguasai akal pikiranku!



aku merasa sangat LEMAH menghadapi apa yang aku lihat!!



aku begitu KECIL dihadapan mereka!



aku begitu MUNGIL dihadapan mereka!



aku... aku... aku....





TUUHAAANN.....!!



aku merasa bahwa ini memang hal yang semestinya aku lakukan!



aku merasa bahwa inilah JALAN HIDUPKU!!



TUHAN! jikalau semua memang demikian? berikanlah aku kekuatan untuk membantu secuil saja untuk kebahgiaan mereka!



TUHAN! hanya Engkau dan aku yang tahu apa yang aku rencanakan dan aku berharap hal itu dapat TERWUJUD!!



betapa bahagianya aku Tuhan bila Engkau merestui semua rencanaku ini!



Tuhan, esok merupakan hari KEMERDEKAAN Negaraku yang ke-65,



TAPI Tuhan! mengapa aku tak kunjung bisa melakukan sesuatu yang NYATA Tuhan!?



aku telah berusaha semampu yang aku bisa!



aku melakukan semua cara namun tak jua bisa merubah!



tanggal 01 Agustus 2011 merupakan awal dari rencanaku yang kesekian untuk dapat merubah apa yang aku harapkan dan semua rencanaku tersebut Hanya bisa TERWUJUD dengan pertolongan dari-Mu Tuhan,



Tuhan, pantaskah aku meminta-minta kepada Negaraku!?



Tuhan, layakkah aku memohon-mohon kepada-Mu!?



Tuhan, masihkah aku merasa cocok untuk menerima semua yang aku limpahkan ini!?



Tuhan, hanya Engkau yang mengetahui semua jawaban itu.



TERIMA KASIH TUHAN KARNA ENGKAU SUDAH MENCUKUPKAN AKU DENGAN APA YANG ENGKAU BERIKAN KEPADAKU PADA HARI KEMARIN, HARI KEMARIN LUSA HINGGA HARI DETIK INI!



TERIMA KASIH TUHAN, TANPA-Mu AKU HANYA KAPAS-KAPAS YANG TERBANG MELAYANG DIUDARA TANPA ARAH DAN TUJUAN!



TERIMA KASIH OH TUHAN, TERIMA KASIH.

Minggu, 03 Juli 2011

BERSYUKUR

BERSYUKUR

tanyaku dalam diri,
"mengapa tak jua aku menjadi seperti yang lain?"
tanyaku dalam diri,
"kenapa semua yang ada dalam diriku tak sama?"

aku selalu berkomunikasi kepada jiwa dan raga,
berkomentar mengenai kebaikan apa yang telah aku perbuat,
adakah yang sudah aku lakukan untukku maupun untuk oranglain?
apakah semua itu benar aku niatkan dengan tulus ikhlas dan atas harapan mendapatkan Ridho ILLAHI?

selalu dan selalu begitu,
aku merasakan hal yang mengganjal,
menitik dari relung sukma,
nadir pun ikut terkesima,

wahai manusia,
mengapa engkau bertanya-tanya?
apalah daya aku berkata,
ternyata semua tak kunjung ku terima,

kini aku mendapatkan buah kesabaranku,
menanti jikalau beliau kan berubah,
Subbhannallah,
hanya itu yang kata yang terlontar,

menatap sosok yang dahulu aku cerca,
sekarang beliau telah berubah,
lantas masihkan aku pantas memakinya?
tanpa bisa menerima apa yang ALLAH berikan?

sungguh aku merasa merana,
tatkala syahdu aroma kelam di masa lampau,
sungguh aku merasa gundah-gulana,
memperhatikan siapa yang memanjakan,

terima kasih ya ILLAHI,
terima kasih ya RABBI,
terima kasih ya Ukhti,
terima kasih ya Akhi,

hanya kalimat terima kasih yang mampu ku beri,
ketika kata-kata tak bisa ku keluarkan kembali,
bukan karna kehabisan inspirasi,
tetapi lantaran aku mulai menyadari.

Sabtu, 02 Juli 2011

tertanya-tanya

aku tahu semua ini sudah berakhir,

tiada lagi kearifan,

sebatas angan di masa lalu,

tak berhenti,


inilah yang terkuras,

menggapai aksara tak berdawai,

melompat tinggi tak berarti,

tak berhenti,


semua selongsong sudah terbenahi,

mengintip senja menatap fajar,

memang kiranya demikian,

tapi semua terus berjalan,


ya! aku terpanggang!

dalam kubah berisi es!

dimana aku menghisap sari pati,

sari pati buah simalakama,


takdirkah ini?

nasibkah ini?


halilintar yang ku tanya,

hanya menggelegar,

badai yang ku tanya,

hanya meracau,


adalah satu dua yang mendengar!

aku berkeluh lantah!

mulut seperti kelu,

tiada berasa dan merasa,


sampai kapan?

sampai kapan?

Jumat, 01 Juli 2011

belajar memperbaiki

semalam suntuk aku berpaling,
mentari menyengat aku masih tetap berpaling,
sampai senja berhias pun aku juga masih tetap berpaling,
sampai gelapnya malam pun aku masih tetap berpaling,

... suatu hal yang tak mau aku lakukan,
suatu tindakan yang tak ingin aku perbuat,
mengapa aku menjadi orang yang bodoh?
kenapa aku baru menyadari hal ini?

memang penyesalan selalu hadir dalam akhir episode,
karna ia ada untuk membuat kita mengerti bahwa kita tidaklah sempurna,
walaupun ia datang di awal,
ia bukan lagi penyesalan tetapi peringatan,

sungguh! aku merindu suasana ini!
sungguh! sudah lama aku ingin begini!

menangkar kembali diri,
mendidik kembali raga,
membelajari kembali jiwa,
mengintropeksi kembali kehidupan,

aku tahu,
masih ada waktu sebelum akhirnya semua terlambat!
aku tahu,
ini sebuah kesempatan yang Dia berikan!

tak mau lagi aku salah tanggap!
tak ingin lagi aku salah paham!

berat memang namun aku tahu,
di ujung jalan ada keindahan yang kan Dia berikan,
hanya mengharapkan ridho-Nya aku jalani ini,
semoga aku tak kembali salah jalan.

Rabu, 29 Juni 2011

persoalan yang pertama

aku tak tahu apa yang harus aku lakukan!

aku bahkan tak tahu siapa yang mesti aku salahkan!

melihat pada kenyataan,

semua serasa bagai desiran,



mungkin aku yang salah,

mungkin dia yang salah,

mungkin kami yang salah,

mungkin keadaan yang salah,



siapapun yang salah aku tak bisa menghakimi,

siapapun yang benar aku tak mampu menghardik,

aku hanyalah manusia biasa,

yang tiada memunyai hak untuk menghakimi maupun menghardik,



ingin menangis saja aku tak bisa!

ingin bermarah ria aku tak kuasa!

ingin memaki dan mencaci apalagi lah!



semua itu memang sudah terjadi,

aku melupakan kenyataan,

dan hidup dalam angan-angan,

indah memang tapi itu hanyalah FANA!



ya! seharusnya aku mensyukuri apa yang terjadi padaku kini,

mungkin saja kalau aku tak berjumpa dengannya aku tak menjadi seperti diriku saat ini,

ya! MUNGKIN!

hanya itu yang sanggup aku lontarkan!



MUNGKIN AKU YANG SALAH!

MUNGKIN DIA YANG SALAH!

MUNGKIN KAMI YANG SALAH!

MUNGKIN KEADAAN YANG SALAH!



aku tak mau mencari kambing hitam dari permasalahan ini!

aku tak mau berburuk sangka dalam persoalan ini!

aku tak mau menilai apapun!

aku tak mau salah langkah untuk kesekian kali!



SUDAH CUKUP BAGIKU!

APA YANG KU LIHAT DENGAN KEPALA MATAKU!

MESKI SEBUAH KATA,

TAPI ITU NYATA!



inilah kenyataan BUNG!

inilah realita BUNG!

inilah kefanaan BUNG!

inilah dan inilah arti sebuah KEHIDUPAN MENUJU KEBIJAKSANAAN!